Kritik Kontemporer Atas Argumen Kosmologi Tuhan

 


Argumen mengenai pembuktian keberadaan Tuhan selalu menarik untuk dikaji, sebab dalam sejarah panjang pemikiran manusia, perdebatan tentang Tuhan seolah tak pernah menemukan titik akhir. Salah satu perdebatan yang paling sering muncul adalah soal bagaimana Tuhan dibuktikan. Di antara berbagai pendekatan, argumen kosmologis menempati posisi yang paling populer. Argumen ini berangkat dari gagasan sebab-akibat: setiap sesuatu yang ada memiliki penyebab, lalu kesimpulan akhirnya ditarik bahwa Tuhan adalah pencipta alam semesta.

Secara klasik, argumen kosmologis ini dirumuskan sebagai berikut: pertama, setiap entitas yang ada mesti memiliki alasan yang menjelaskan keberadaannya (Principle of Sufficient Reason/PSR). Kedua, alam semesta itu ada. Ketiga, maka alam semesta memiliki penjelasan atas keberadaannya. Keempat, penjelasan tersebut tidak mungkin bersifat kontingen. Kelima, karena itu penjelasan atas keberadaan alam semesta harus berupa necessary being. Keenam, maka ada necessary being. 

Sekilas, argumen ini tampak sangat masuk akal dan karenanya sering digunakan dalam berbagai forum, baik di ruang kelas maupun diskusi publik. Namun pertanyaannya, di tengah perkembangan sains modern, khususnya fisika kuantum yang kerap menantang hukum kausalitas klasik; apakah rumusan argumen ini masih relevan untuk digunakan sebagai jawaban? Secara pribadi, sulit untuk mengatakan “iya” tanpa reservasi, meskipun argumen ini didukung oleh tokoh-tokoh besar seperti Aristoteles, Aquinas, Anselmus, Ibnu Rusyd, hingga al-Ghazali. Jika dibandingkan dengan pendekatan para filsuf kontemporer seperti William Lane Craig, Richard Dawkins, Graham Oppy, Daniel Dennett, Sam Harris, dan lainnya, argumen kosmologis sering dipandang kuno. Bukan karena sepenuhnya salah, melainkan karena gagal menjawab persoalan asal-usul realitas dengan cara yang dapat diverifikasi secara logis dan ilmiah. Meski memiliki bobot epistemik, objek yang digunakan terlalu metafisik dan tidak memungkinkan pengujian berulang.

Dalam konteks argumen ketuhanan, pembuktian melalui kosmologi sebab-akibat yang berkelanjutan yang kerap dianggap paling monumental sebenarnya menyisakan ruang kritik yang cukup besar. Kita memang dapat mengakui bahwa argumen kosmologis adalah salah satu cara terbaik untuk membahas keberadaan Tuhan, namun di titik yang sama muncul pertanyaan lanjutan: Tuhan yang mana? Dan mengapa Tuhan harus menjadi perantara penciptaan alam semesta melalui skema kausalitas tertentu?

Masalah mendasarnya adalah kita sendiri belum benar-benar mengetahui apakah alam semesta bersifat kontingen. Dalam beberapa model kosmologi modern, seperti teori multiverse atau loop quantum gravity, realitas fisik bisa saja bersifat niscaya atau abadi, tanpa awal yang mutlak. Big Bang tidak harus dipahami sebagai awal dari segala sesuatu, melainkan sebagai awal dari bentuk alam semesta yang kita kenal sekarang. Apa yang terjadi sebelum Big Bang, atau di luar struktur ruang-waktu kita, masih merupakan misteri. Dengan demikian, menyatakan bahwa alam semesta “bisa saja tidak ada” lebih merupakan spekulasi filosofis ketimbang fakta empiris.

Di sini juga muncul fallacy of composition. Bahwa setiap bagian alam semesta bersifat kontingen; manusia, planet, galaksi tidak serta-merta berarti keseluruhan alam semesta juga kontingen. Contoh klasiknya: setiap manusia memiliki ibu, tetapi itu tidak berarti seluruh umat manusia memiliki satu ibu yang sama.

Selain itu, keberatan terhadap infinite regress, dalam argumen kosmologis sering kali terasa problematis. Ketika kita bertanya tentang apa yang menyebabkan sesuatu ada, atau mengapa sesuatu itu ada karena disebabkan oleh yang lain, pertanyaan tersebut sebenarnya tidak berhenti pada alam semesta yang kita kenal. Karena keterbatasan pengetahuan kita tentang realitas, kita lalu menutup pertanyaan itu dengan kesimpulan bahwa Tuhanlah pencipta alam semesta. Pola penalaran ini serupa dengan mengatakan bahwa pembuat ban adalah pembuat mobil. Padahal, meskipun pembuat ban berkontribusi pada keberadaan mobil, mereka jelas bukan pencipta mobil secara keseluruhan. Proses pembuatan mobil sendiri kompleks dan tidak dapat disederhanakan menjadi satu sebab tunggal.

Keberadaan Tuhan, entah ada atau tidak, selalu mungkin untuk dijadikan premis. Namun dalam konteks pemahaman manusia modern, argumen kosmologis berbasis kausalitas justru relatif mudah dipatahkan. Terlebih lagi, melompat pada iman sebagai solusi instan atas persoalan logis adalah langkah yang terkesan ceroboh. Manusia modern menuntut penjelasan yang memadai, bukan jawaban cepat yang sekadar memuaskan narasi metafisik, apalagi jika diklaim sebagai penjelasan ilmiah.

Disinilah penting untuk sama-sama dicatat, argumen kosmologis berbasis kontingensi tetap menjadi perdebatan yang tak berujung. Persoalannya bukan semata-mata soal benar atau salah, melainkan tentang bagaimana pengetahuan epistemik manusia berkembang dalam upaya memahami keberadaan Tuhan dan alam semesta. Seperti yang dikemukakan oleh Graham Oppy, kaum naturalis dapat lebih memilih untuk menganggap alam semesta itu sendiri bersifat niscaya, ketimbang menyimpulkan Tuhan sebagai penyebab keberadaannya. Tuhan dipahami sebagai entitas yang terlalu metafisik dan melampaui fisika, sementara alam semesta meski belum sepenuhnya dipahami masih dapat didekati melalui kerangka rasional manusia. Pendekatan ini, bagi sebagian orang, terasa lebih jujur daripada bersandar pada “opium metafisik” yang menjanjikan ketenangan, tetapi tak pernah benar-benar berujung pada realitas.


Sumber;

1. Craig, W. L. (2006). Contemporary cosmology and the existence of God. In Analytic Philosophy Without Naturalism (pp. 97-133). Routledge.

2. Halvorson, H., & Kragh, H. (2011). Cosmology and theology.

3. Oppy, G. (2000). On ‘a new cosmological argument’. Religious Studies, 36(3), 345-353.

4. Collins, F. S. (2006). The language of God: A scientist presents evidence for belief (No. 111). Simon and Schuster.

Komentar

Postingan Populer

Citra Sirius A dan Sirius B yang diambil dari Hubble Space Telescope. Sirius B, yang merupakan katai putih, dapat dilihat sebagai titik redup di sebelah kiri bawah Sirius A yang lebih terang. Katai putih, juga disebut katai degenerasi, adalah bintang kecil yang sudah tidak lagi bersinar. Katai putih adalah tahap evolusi terakhir bintang bermassa kecil dan menengah (sekitar 0,07 M☉ sampai 10 M☉ ; M☉ = Massa matahari). Katai putih sangat padat dimana massanya sama dengan matahari tetapi volumenya hanya sebesar bumi, katai putih terdiri dari materi terdegenerasi. Katai putih tidak lagi memiliki bahan bakar berupa hidrogen untuk melakukan fusi, bintang melakukan fusi dan menghasilkan energi serta tekanan yang menuju keluar inti, hal ini diseimbangkan oleh energi gravitasi yang menuju kedalam, akan tetapi katai putih tidak lagi melakukan fusi sehingga semua materinya tertarik menuju inti sehingga katai putih menjadi sangat padat. Hal yang sama juga dialami bintang bermassa besar tapi gaya gravitasinya jauh lebih kuat sehingga tarikan ke inti menjadi lebih dahsyat dan akhirnya meledak membentuk lubang hitam atau bintang neutron. Katai putih tidak mempunyai sumber energi sehingga lama kelamaan katai putih akan mendingin sampai tidak memiliki cahaya lagi untuk dipancarkan tetapi itu sangat lama karena katai putih berumur sampai 10 milyar lebih lam dari alam semesta ini , katai putih berubah menjadi katai hitam. Waktu yang diperlukan untuk menjadi katai hitam diperkirakan lebih lama dari usia alam semesta saat ini (13,8 milyar tahun), karena itulah ilmuwan percaya belum ada katai hitam yang tercipta. Ketidakbiasaan katai putih pertama kali dikenali pada tahun 1910 oleh Henry Norris Russell, Edward Charles Pickering dan Williamina Fleming; nama katai putih pertama kali digunakan oleh Willem Luyten tahun 1922. Katai putih terdekat bumi adalah Sirius B yang mengiringi bintang Sirius A yang merupakan bintang tercerah di langit malam. Lihat pula Batas Chandrasekhar Artikel ini menggunakan bahan dari artikel Wikipedia Katai putih, yang dilepaskan di bawah Creative Commons Attribution-Share-Alike License 3.0.