Kematian Demokrasi Oleh Demos

 

Orang bisa percaya bahwa ia bebas, tetapi dalam kenyataan kebebasan telah hilang karena pikiran tiap orang sudah dicekoki  oleh pemerintah, dan apa-apa yang diinginkan oleh mereka maka akan disesuaikan dengan apa-apa yang diinginkan oleh pemerintah”Friedrich August von Heyek (8 Mei 1899 – 23 Maret 1992)


"Mereka tidak berani berbicara" Begitulah ucapan orang-orang tua yang hidup di masa orde Baru, masa dimana pemerintah lebih tahu menahu, lebih tepat dan tegas mengatakan pemerintah mau mengatur hidup masyarakat dengan  ukuran mereka sendiri. Masyarakat berada pada bayang-bayang penguasa, eloknya mengucapkan semacam itu pada pemerintah orde Baru. Langkah rakyat dihantam mata, setiap tatapan bahkan, tidak ada kebebasan untuk setiap nafas untuk bisa dibebaskan. Jika berbicara soal Keadilan, maka masa itu hanya orang-orang tertentu yang bisa perbincangkan, sisanya hanya bisa ikut serta di barisan belakang sebab jika mereka menjadi penuntun, mungkin saja beberapa hari kabar duka akan diselimut bagi keluarga karena kehilangan, atau kematian. 

Ini tidaklah dikatakan selesai, satu dua orang tiba-tiba menghilang tanpa jejak, mereka dikatakan mati atas nama tetapi hidup dalam laksana perjuangannya. Nama mereka begitu agung selepas perjuangan membebaskan diri, namun sebelum mereka bisa menjadi pahlawan dalam Reformasi, mereka harus siap di babat habis tanpa ada yang tahu dimana tubuh mereka terakhir kali. 

Begitulah kabar duka nya, bagaimana masa kelam itu diselimuti fakta, namun harus ditakut-takuti keamanan negara. Pegangan rakyat hanya ikut, selebihnya jangan berani untuk menyikut. Jika sedikit saja keberanian mereka nampak di publik dengan sedikit ganas, mereka harus menyiapkan pemakaman diri atas kematian yang paling mengenaskan. Ini bukan sekedar satu dua kasus yang tidak sengaja ditinggalkan, namun memang dibalik tirai yang katanya demokratisasi sebuah negara, tersimpan senapan di baling-baling perjuangan, dituliskan dalam balik gedung istana yang begitu megah berwarna putih tanpa diketahui oleh rakyat bahwa "barangsiapa yang bersuara, mereka akan mati tanpa sua".

Begitu mendalam, tidak ada hidup yang karuan. Para intelektual berusaha berjuang, sayangnya mereka tidak banyak, sehingga keberanian mereka sampai pada provokasi, namun tidak berani untuk unjuk gigi. Ada beberapa intelektual yang turun tangan, keberanian mereka begitu disanjung luar biasa, teriak lantang sana sini, kemudian menunjukkan betapa ironi negeri nya. Sayangnya keberanian dan suara itu bungkam selepas ia terbang dibawa kedalam Liang lahat oleh pelaku yang tidak diketahui siapa yang melakukan. Namun indikasinya sama, berani untuk melawan maka sama saja menyiapkan diri untuk pemakaman. Ini aturan sederhana, namun tidaklah untuk bisa dikatakan untuk manusia. 

Duduk dalam demokrasi, namun beberapa puluh tahun dan periode harus siap di kolonialisasi, tapi versi lokalitas sang penjajahnya. Membenci kaum kiri dan mengatakan mereka anti beragama dan memusuhi negara. Sedangkan yang teriak nasionalis ternyata membungkam kemanusiaan untuk rasa kesatuan, padahal dimana lagi kemanusiaan dikumpulkan jadi satu tinggal badan, sedangkan sang manusia harus mati bergeletak tanpa harapan. Siapa yang menjadi manusia jika semua di penjarakan dalam kesengsaraan. Begitu naasnya sebuah bangsa yang mengatasnamakan demokrasi, namun semua bungkam secara terstrukturalisasi. Dari jejak kaki sampai suara dan bahkan lisan di tiupkan senapan untuk kepala yang tidak sejalan, kematian mereka adalah duka untuk kebebasan dan keadilan. Namun untuk menangisi nya saja tak bisa, sebab selagi terlihat tetesan air mata ketika mengetahui kabar kematian para pahlawan tak tertulis dalam sejarah itu, mereka bisa saja terindikasi jadi musuh yang membelot dan akhirnya ditembak mati di tempat. 

Itu terjadi dulu, dulu dimana pemerintah yang begitu menakutkan, menegosiasikan demokrasi dalam basis teori kontrak sosial, namun sayangnya itu dilakukan di pasar kapital sehingga rakyat yang punya uang beberapa hari saja buat makan tidak dilibatkan. Ini nyata, dan buktinya dalam catatan sejarah yang meresahkan itu. Dituliskan dengan tetesan air mata, digoreskan dengan tinta darah selepas diiris oleh orang-orang misterius dengan menjual nasionalis dan loyalitas. Itu terus menerus terjadi tanpa henti, terjadi dengan berbagai cara. Akhirnya itulah kematian demokrasi di negara yang katanya lebih manusiawi, namun mereka semua diletakkan dalam dunia kapitalisasi yang dihidupkan hanyalah mereka yang punya modal tahta, kuasa dan pengetahuan dalam menjalin asmara kekerasan dunia.

Kekuasaan itu menakutkan, bahkan setidak-tidaknya mewarnai gelap gulita sebuah bangsa, narasinya demokrasi, namun pembuktian nya adalah pembungkaman. Sadar atau tidak, inilah kepastian, bagaimana kekuasaan di sebuah negara yang mengaku memuat kehidupan tatanan masa depan yang baik itu harus menelan kebisingan kemunafikan. Menakutkan?, jelas iya, bahwa demokrasi itu hanya sebagai atribut dijual beli di ladang gambut, pada akhirnya kematian manusia-manusia hebat itu harus tidak diketahui karena menyelematkan nama demokrasi di mata dunia. Sayang seribu sayang, inilah yang terjadi dimasa itu, dunia diliput dengan politik kekuasaan, tidak ada lagi nama kemanusiaan dalam hakikat kontrak sosial, hanya ada proyek kepentingan; siapa saja yang punya kuasa boleh dipersilahkan, siapa saja yang punya tahta boleh di dahulukan, dan siapa saja yang jadi Otoritas bisa mengaku sebagai kebenaran. 

Demokrasi mati selepas ia di deklarasikan atas nama pembungkaman, kapitalisasi yang berceceran luas, menandakan bahwa kekerasan itu sudah menjadi banalitas. Tidak ada kotak Pandora yang harus dibuka rakyat sebagai harapan, hanya ada tulisan tangan untuk kebebasan dan berteriak dalam hati, karena ketika mengeluarkan intonasi suara dengan volume terkecilpun, akan dianggap sebagai penghianat negara. Jadi, siapa penjahat utama dalam narasi masa lalu itu?, dan seperti yang telah dijadikan narasi sejarah, bahwa penderitaan dengan cerita yang sama akan terulang kembali. Bukan percaya dengan reinkarnasi, namun kadang sebuah peristiwa akan terjadi kembali dengan pola-pola yang persis sama pada tokoh-tokoh pelaku dan korban yang berbeda-beda. Namun sejarah itu tercatat jelas, terurai panjang dan memiliki kemiripan, bahwasanya suatu masa yang akan datang ada sebuah kabar di negara berdemokrasi yang katanya segala-galanya untuk rakyat, namun harus berakhir sebagai narasi yang dibahagiakan adalah pejabat.


MERAMAL HARI INI

"mereka berani berbicara, namun tidak di dengarkan". Narasi panjang yang cukup menerangkan hari ini, bahkan lebih cepat mengatakan tepat sasaran. Ini bukan sebuah kesimpulan, namun hipotesis yang telah coba dibuktikan. Bahwasanya, kondisi sejarah mulai terulang setidak-tidaknya dalam alam fikir banyak orang, keadaan negeri yang sudah diperjuangkan melawan masa lalu yang tidak baik-baik saja untuk sebuah formula Reformasi untuk tujuan mulia. Namun sayangnya tidak semua berjalan lancar, rintangan membentang jauh dari sangat lebar, memberikan Deklarasi bahwa sejarah akan mencatat kisah yang berulang. Tentang bagaimana kelamnya sebuah bangsa demokrasi yang tidak lagi oleh, dari dan untuk rakyat. 

Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali. Sebagai lirik lagu yang terdengar tak asing lagi, sehingga dapatlah sebuah konklusi berjalan baik dan rapi, bagaimana dorongan imaji dalam sejarah yang terulang, tercatat dan tidak akan saling berpegang, lalu akhirnya kematian warga negara di dunia itu benar terjadi di masa sekarang. Letak narasinya sangat panjang, sampai tidak ada jawaban yang bisa dibenarkan. Namun pada dunia yang telah dibuktikan sekarang, ditatap dan begitu nampak adanya, negara yang berbasis kerakyatan itu kembali Bernostalgia, bahkan dijadikan nyata, setidak-tidaknya hipotesis ini berlanjut dalam pembuktian yang bisa disaksikan secara mata terbuka. 

Negara itu mulai terbuka ruang saling tidak menerima, bagaimana tidak sepakatnya lagi atas nama kepercayaan publik antara pemerintah dan warga negara. Pertengkaran itu menjadi-jadi tak wajar, ketika dipilihkan pemimpin yang dikatakan terlalu nasionalisasi, percaya persatuan dan kesatuan sebagai solusi pembangunan, namun harus mengakhiri dengan pembatasan pembungkaman. Matilah demokrasi itu sekarang atas nama nasionalisme, bahwa rakyat tidak menjadi utama ketimbang pertahanan negara. Anggapnya ketika lebih banyak penguasa dipegang oleh tangan bersenjata, maka makmurlah sebuah bangsa. alam fikirnya semacam itu, namun tidaklah dibenarkan ketika itu memuat nuansa demokrasi yang jelas-jelas narasinya satu dengan yang lain harus percaya postulat manusiawi. Dunia demokrasi itu bukan soal saling memata-matai semacam fikiran hobbesian, namun bagaimana ia seperti surga firdaus yang harus diisi dengan; hati yang lapang, toleransi yang membentang, saling menghargai dan menghormati dalam setiap pandang, sampai dengan membantu satu sama lain dalam setiap perjuangan atas nama persatuan. Catatan pentingnya adalah tidak ada senjata yang di todong dan bahkan tidaklah boleh penguasa menjadi mengada-ngada dalam berkuasa, tidaklah mereka mengisi perut sendiri dan melaparkan rakyatnya. Hingga akhirnya dunia itu terasa lebih terasa seperti masa kelam itu jika terulang lagi tidak ada suara bebas dari rakyat yang tertindas karena mereka diancam di tebas. Inilah ironi terjadi sampai di sebuah negeri itu, merasa demokrasi, namun mereka seperti kejadian masa lalunya, dibungkam sampai nama konstitusi tertulis, namun praktiknya nihilis. 

Itu terjadi, sampai pembuktian hari ini. Bahwa demokrasi dibungkam dalam struktur aturan kekuasaan, cara mainnya sederhana; bahwa ketika pemain dihalangi oleh aturan sistem, maka ubah saja sistem tersebut agar sesuai dengan pemain. Sesuka hati para pemain yang duduk di rumah istana itu, mereka menelan rasa bahagia tanpa peduli hak dan kewajiban yang seharusnya. Ketika itu benar-benar terjadi dan sekarang terlihat jelas, maka teriakan mereka lantang dibiarkan saja, namun untuk didengar dan di lakukan tidak pernah di lakukan. 

Secara lebih sederhana, dulu  masa kelam itu kebebasan tidak dibiarkan, tidaklah ada kebebasan untuk berbicara, dari hulu sampai hilir semua diatur sedemikian rupa ketat dan tidak ada kebebasan atas mereka. Semua aturan dipegang secara sentralisasi oleh beberapa dan bahkan otaknya hanya satu saja. Namun itu bisa mengatur sedemikian banyak pihak dan masyarakat untuk kekuasaan yang sebebas-bebasnya. Namun sistem sekarang berbeda, diberikan kebebasan berbicara, teriak lantang tanpa jeda, tidaklah ada larangan bersuara dimana-mana. Akan tetapi, kebebasan mereka hanya sebagai ekspresi yang diatur untuk melengkapi formalitas, namun para pemain akan tetap kekeh dengan apa yang mereka bawa, yakni keuntungan mereka sendiri dan tidak peduli teriakan keras dari para rakyat yang bersuara di luar istana. Disinilah, ketidakpedulian terjadi dengan begitu nyata, siapa yang peduli suara rakyat selagi mereka bisa berteriak, namun tidak lah perlu untuk di ikuti kemauan. Dalam pandang pejabat, biarkan teriakan itu sekeras mungkin, namun tidak harus di jalankan, seperti itu jalan dan mekanisme aturan mainnya.

Inilah ironi dari demokrasi saat ini, ia bereinkarnasi menjadi tidak lebih baik bagi yang mendapatkannya, bahkan kenyataan terlihat di hadapan tidak mencerminkan kerakyatan, hanyalah berisi formalitas dan narasi ideal yang sejak lama basi. Demokrasi itu mati di negeri yang menteriaki konstitusi yang langgeng kekuasaan sepihak, namun dianggap sebagai pembenci. Rasanya inilah bentuk demokrasi yang bereinkarnasi, lebih sopan dan tidak diketahui siapa pelaku kejahatan. Karena demokrasi hari ini tidak nampak Sentral, namun secara aturan telah dijadikan sebagai dalih permainan untuk beberapa orang dan bahkan seseorang yang menjadi otak permainan, kekuatan mereka begitu kuat karena di tempa oleh kepentingan sepihak. Sampai akhirnya demokrasi di negeri itu tidak baik-baik saja, terlahir sebagai duka, namun tidak pernah menawarkan solusi paling bisa menyelesaikan masalah yang ada. Selalu, setiap detiknya jantung permasalahan semakin berdebup kencang nan banyak, tidaklah satupun terselesaikan, bahkan semakin bertambah persoalan. Bisa disaksikan dengan pembacaan paling simplifikasi sekalipun, demokrasi akan dikabarkan kematiannya berapa kali dari, oleh dan untuk rakyat yang harus merasai. Para rakyat yang akan disebutkan mereka, bahwasanya Mereka berani berbicara sebebas-bebasnya, mereka berani berteriak lantang tanpa bentang, mereka berani turun ke jalan dengan membawa representasi kekecewaan. Namun mereka harus menelan rasa lebih kecewa ketika usaha itu tidak di gubris dengan serius, bahkan suara mereka sebagai musik di telinga pejabat, hati nurani telah jadi  makanan tak sehat untuk pejabat. Namun sayangnya untuk sebuah perubahan dari, oleh dan untuk rakyat sebagaimana idealnya demokrasi hanya sebuah narasi yang terus menerus bereinkarnasi. Sampai kapan?, entah sampai kapan itu akan terus terjadi. Tidak ada harapan besar dari sebuah perubahan dari demokrasi hari ini selain pembungkaman secara permainan struktural. 

Pada kenyataan yang pahit, begitulah demokrasi berjalan dengan mengigit sakit. Dimasa lalu ditempa oleh keserakahan beberapa pihak untuk kepentingan sepihak. Lalu sekarang demokrasi menjelma menjadi lebih seram, reinkarnasi dari Reformasi akan jadi narasi perjuangan lampau yang telah ditumpah darah dan sampai menghilang tanpa tubuh yang ditemukan. Demokrasi di negeri itu akan jadi utopia narasi, panjang dan terus menerus berbisik untuk memanusiawi, namun tidaklah lekas intropeksi dari masa lalu, bahkan lebih buruk kejahatan di lakukan dengan menampar aturan, lalu ditarik paksa dengan mengikuti kehendak kepentingan. Pada akhirnya bagian disinilah demokrasi bermain, hanya untuk orang-orang yang tidak pernah lagi menunjukan perasaan saling peduli. Hanya ada, pemimpin yang mencoba membangun pondasi mereka sendiri, rumah mereka sendiri, lalu rakyat yang jadi ruang subtansi hanya akan jadi bagian administrasi. Lalu di akhir kekuasaanya, akan datang imam Mahdi yang sedemikian skenario nya sama, bahwa mereka akan menjadi lebih baik atau merubah lebih baik, namun sayangnya ketika kekuasaan sudah di tangan, butalah ia, tulilah ia, bisulah ia dan mati rasa lah ia. Ini yang terjadi dalam reinkarnasi demokrasi yang bisa ditatap nyata hari ini.


KESIMPULAN

Demokrasi menjadi ruang narasi panjang, ketika ia terus menerus diperbincangkan dalam ruang-ruang perdebatan. Bagaimana seharusnya menyebutkan demokrasi yang sehat di sebuah negara?. Terdapat esensi sebuah pengetahuan bahwa demokrasi di negara yang menjunjung tingginya tidak akan mungkin melebar sayap konflik kerakyatan. Namun sayangnya itulah yang terjadi, kematian demokrasi begitu nyata kabarnya. Dimasa disebut orde Baru, demokrasi bersifat Sentral, kepemimpinan ditunjukan hanya dengan dipegang oleh satu dua orang, sisanya harus mengikuti semua intruksi sang atasan bagai mereka yang merasa satu-satunya pemilik kuasa. Kemudian disinilah demokrasi dimatikan dengan tidak ada lagi ekspresi kebebasan, keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat. Seterusnya itu terjadi hingga kini, bahwa narasi demokrasi dibabat habis di masa lalu, kemudian bereinkarnasi dengan bentuk lain ternyata tidak lebih baik, bahkan demokrasi mulai larut dalam narasi aturan dipermainkan oleh sang pemain yang punya hak mengatur permainan. Demokrasi yang terlahir tidak membawa yang lebih baik, namun lebih rumit. Konsekuensinya dari semua itu adalah matinya demokrasi untuk kesekian kali, sampai tidak tahu bagaimana solusi alternatif untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi. Namun pada akhir yang paling ingin dijelaskan bahwa narasi demokrasi akan terus menerus bereinkarnasi, tanpa selesai, karena di sebuah negara yang terus berkembangnya itu, narasi demokrasi akan berorientasi pada perdebatan panjang, namun tidak pernah menemukan titik terang ketika sudah berada dalam sidang praktikal.

Komentar

Postingan Populer

Citra Sirius A dan Sirius B yang diambil dari Hubble Space Telescope. Sirius B, yang merupakan katai putih, dapat dilihat sebagai titik redup di sebelah kiri bawah Sirius A yang lebih terang. Katai putih, juga disebut katai degenerasi, adalah bintang kecil yang sudah tidak lagi bersinar. Katai putih adalah tahap evolusi terakhir bintang bermassa kecil dan menengah (sekitar 0,07 M☉ sampai 10 M☉ ; M☉ = Massa matahari). Katai putih sangat padat dimana massanya sama dengan matahari tetapi volumenya hanya sebesar bumi, katai putih terdiri dari materi terdegenerasi. Katai putih tidak lagi memiliki bahan bakar berupa hidrogen untuk melakukan fusi, bintang melakukan fusi dan menghasilkan energi serta tekanan yang menuju keluar inti, hal ini diseimbangkan oleh energi gravitasi yang menuju kedalam, akan tetapi katai putih tidak lagi melakukan fusi sehingga semua materinya tertarik menuju inti sehingga katai putih menjadi sangat padat. Hal yang sama juga dialami bintang bermassa besar tapi gaya gravitasinya jauh lebih kuat sehingga tarikan ke inti menjadi lebih dahsyat dan akhirnya meledak membentuk lubang hitam atau bintang neutron. Katai putih tidak mempunyai sumber energi sehingga lama kelamaan katai putih akan mendingin sampai tidak memiliki cahaya lagi untuk dipancarkan tetapi itu sangat lama karena katai putih berumur sampai 10 milyar lebih lam dari alam semesta ini , katai putih berubah menjadi katai hitam. Waktu yang diperlukan untuk menjadi katai hitam diperkirakan lebih lama dari usia alam semesta saat ini (13,8 milyar tahun), karena itulah ilmuwan percaya belum ada katai hitam yang tercipta. Ketidakbiasaan katai putih pertama kali dikenali pada tahun 1910 oleh Henry Norris Russell, Edward Charles Pickering dan Williamina Fleming; nama katai putih pertama kali digunakan oleh Willem Luyten tahun 1922. Katai putih terdekat bumi adalah Sirius B yang mengiringi bintang Sirius A yang merupakan bintang tercerah di langit malam. Lihat pula Batas Chandrasekhar Artikel ini menggunakan bahan dari artikel Wikipedia Katai putih, yang dilepaskan di bawah Creative Commons Attribution-Share-Alike License 3.0.