Banalitas Kebodohan
"Kalau masih bodoh, jangan sok misterius "
Sebuah tamparan yang aku temukan di media sosial, rasanya itu bukan sebuah pernyataan tanpa alasan, bukan pula sebuah statment tiba-tiba tanpa makna mendalam. Bagiku sendiri, statement itu menamparku sebagai wujud, siapa sih aku sebenarnya?, apakah aku begitu hebat sehingga aku diam saja di dunia penuh dengan kebisingan ini?.
Aku memulai dari pengalaman pribadi, tentu pengalaman ini akan berbeda dengan sekalian, maka demikian ada hal penting aku sampaikan kepada diriku sendiri. Dulu aku tipe orang yang gak pernah upload apapun di sosmed, dulu pernah pula menyimpan kemampuan ku sendiri, ngerasa gak semua harus dipamerkan, karena kita gak tahu lingkungan media sosial itu seperti apa.
Tapi, aku ketemu satu orang atau lebih tepatnya melihat satu orang yang dia gak terlalu bisa, dia orang biasa, namun dia adalah orang yang menunjukan ku kalau masih miskin dan bodoh jangan sok berkharisma, jangan hanya diam membisu, tapi banyakin aksi.
Dia mengajarkan ku tentang belajar hari ini dari manapun, dan usahakan kamu melihat prosesnya dari bagaimana kamu menampilkan di media sosial, apakah itu pamer?, jawabanya iya.
Namun dengan cara itulah, kamu bisa tumbuh. Dari kebodohan mu menjadi orang yang cukup tahu, miskin harta tapi berkecukupan di pengetahuan. Ilmu itu tidak mahal, kamu bisa belajar dari pengalaman orang lain, dari kitab suci, sekolah, pertemanan, keluarga, negara dan masih banyak lagi. Tapi kuncinya, kamu mau tumbuh gak?, jika iya, jangan pernah menyembunyikan apa yang kamu punya. Silahkan taruh itu di dunia ini, biarkan jametmu menjadi bukti aku pernah bodoh, aku pernah miskin ilmu dan ekonomi. Namun suatu masa ketika kamu melihat dirimu tumbuh perlahan, kamu sadar bahwa belajar itu penting. Kamu gak harus diam membisu, aku dan kamu adalah manusia, butuh belajar dan butuh kehidupan. Setiap orang memang punya privasinya masing-masing dan keputusan hidup. Maka aku tak memaksa orang seperti aku dan begitu pula aku seperti mereka. Cukup jadi aku sendiri dengan versi terbaik ku. Namun satu hal, aku tidak ingin diam membisu dalam kebodohan dan kemiskinan yang aku tahu, minimal kuusahakan dan aku mencoba untuk ribut di dunia yang aku tinggali sekali ini.
Aku bukan siapa-siapa, tapi saya bangga jadi diri sendiri. Secara khusus bagaimana orang tua saya membesar kan saya, mendidik dan bahkan mempercayai ku. Aku bukan dari keluarga kaya, namun mereka mengatakan "pendidikan tidak mahal" Jika itu mau anak-anaknya. Jika demikian kondisi pribadi ku sekalipun, maka buat apa diam?, buat apa membisu di tengah dunia yang kita tinggali, ditengah dunia yang kita maknai, sekaligus di tengah dunia yang akan saya alami, dan peran orang-orang hebat dibelakang ku memberikan bantuan sebagai support system.
Mengapa harus diam jika kita mampu?, kita usahakan dunia yang ditinggali ini kita adalah versi terbaik nya. Maka bagiku sendiri, apa yang sekarang kupunya bukan berarti aku sendiri mencapai nya, tetapi berkat mereka yang memberiku bantuan. Aku tidak ingin menjadi sok misterius, padahal aku adalah manusia miskin Ilmu dan miskin ekonomi. Aku ingin jadi orang paling ribut di dunia tempat manusia menjadi pemimpin muka bumi. Siapapun mereka yang telah menemui ku, kuusahakan mereka akan kujadikan guru, disetiap tempat kujadikan sekolah. Aku tak ingin mati konyol karena kemiskinan; harta dan pengetahuan. Jika memang tak bisa menjadi orang kaya harta, maka sebiasanya jadi orang kaya ilmu. Maka minimal ketika lapar, bukan meminta-minta atau menyalahkan pihak lain, namun kita usahakan semua soal diri kita bisa diperjuangkan, karena kita punya ilmunya.
Maka aku lebih takut menjadi orang miskin yang diam, aku lebih baik menyadarkan diriku kemiskinan ini harus diubah, maka itu dimulai dari diri sendiri, belajar dan kerja tanpa kerjaa. Tidak ada yang peduli padamu, padaku dan pada kita semua paling dalam selain kita sendiri. Maka jangan pernah diam jadi orang miskin, jangan pernah menjadi sosok misterius ketika miskin. Tunjukan kehebatan mu kepada dunia, kau manusia yang berkualitas, sehingga bukan kamu yang mencari pada akhirnya, namun kamulah yang dicari karena kualitas yang dimiliki.
Menjadi miskin itu tidak menyenangkan, berbeda lagi dengan sederhana dan kecukupan. Miskin ekonomi dan ilmu itu menyakitkan, sebab kebodohan dicampur tidak ada uang adalah satu paket lengkap untuk kita mati secara perlahan. Maka setidak-tidaknya bagi kita diberi kesempatan oleh Tuhan untuk bisa tumbuh lebih jauh, maka usahakan ketika kita memang dari keluarga sederhana, atau bahkan miskin, maka pertimbangkan dirimu menjadi orang hebat, Sehebat-hebatnya dengan Versimu sendiri. Bagiku, hebat itu tidak butuh validasi, karena kamu adalah kamu. Bagiku, ketika aku enggan menjadi orang misterius, berarti ada usahaku untuk menjauh dari kemiskinan ekonomi dan pengetahuan. Aku benci kemiskinan, terlepas apapun sebabnya, aku benci kemiskinan jika orang-orang tidak memperjuangkan untuk terbebas dari kemiskinan. Aku ingin keluar dari kemiskinan dengan cara paling ribut, untuk apa diam membisu dan berpura-pura misterius, namun kelaparan. Bagiku, aku ingin keluarga dari kemiskinan ini dengan cara paling jamet, biarkan orang tahu sejamet apa aku hidup, mencoba memamerkan duniaku, dunia dimana aku mampu menjawab dengan kemampuan. Biar mereka tahu bukan aku yang hebat, tapi orang-orang yang sudah memberikan kesempatan untuku tumbuh, dan aku pamerkan kepada mereka, bahwa semua ini berkat orang-orang yang mendukung ku untuk tumbuh dan bisa sejauh ini karena mereka.
Aku tidak ingin bungkam, apalagi menjadi misterius di tengah dunia kacau balau ini. Kuupayakan dunia bisa aku kenali lebih dalam, lebih jauh dan bisa kudapatkan jawaban. Meski aku miskin ilmu dan ekonomi, bukan berarti aku harus diam; aku tidak menunggu orang kaya memberiku uang, orang bijaksana memberikan pengetahuan. Namun aku harus mencarinya, aku usahakan mencoba mencari sedalam-dalamnya sesuatu hal versi terbaik. Lalu akan kujawab dan lakukan jika ada yang salah, dan jangan pernah bungkam jika melihat kemiskinan dan kebodohan didepan mata kita. Karena itu sama saja bentuk kekerasan terhadap kemanusiaan, karena jika kita mampu, mengapa harus diam. Jangan pernah misterius di dunia kacau ini, jadilah orang paling ribut yang haus akan belajar, jangan diam jika miskin, jangan menyalahkan jika miskin, mari berbenah diri dan introspeksi di bagian mana kita salah dan kurangnya. Bahwa kita selalu tumbuh adalah benar, maka untuk itulah ketika kita sadar kita miskin ilmu dan ekonomi, usahakan selalu dengan maksimal, dan jangan berdalil menjadi misterius, pasrah atau bahkan menyalahkan pihak lain. Jadilah diri sendiri, Terima kemiskinan itu, dan ubah ia dengan cara terbaikmu adalah versi hidup sebagai manusia. Jika tidak bisa, maka terima saja kemalangan itu sampai mati.
"Tempat tergelap di neraka disediakan bagi mereka yang tetap netral di masa krisis moral."Dante Alighieri

Komentar