Konsep Skeptisisme Dalam Pengetahuan
Manusia selalu punya cerita menarik dalam hidup. Berasal dari sebuah pemikiran bahwa mereka tidak pernah puas atas keinginan, apa yang di tanyakan, bahkan tindakan mereka pun diragukan sebagai yang hadir.
Disinilah letak kisi-kisi pertanyaan latar belakang pemikirannya. Bahwa manusia seringkali berulah pada idea-idea utopis, bahkan idea idealis pun selalu jadi opsi ambigu. Manusia sering kali terjebak pada ketidaktahuannya, sehingga akhir dari yang didapatkan adalah ketidaktahuan yang tidak memuaskan.
Apa yang diketahui tentu tidak bisa dipastikan benar secara fenomena. Sebab apa yang seringkali manusia anggap sebagai yang "berpengetahuan" Selalu dihadapi pada akal budi murni bahwa dijawabnya tersebut berupa kebenaran dalam parameter kesepakatan saja. Tentu waktu kesepakatan tersebut tidak bisa menjadi ukuran universal sebuah kebenarannya, sehingga ujung semua kebingungan tak lain dari kepenasaranan yang diketahui sebagai bentuk ketidaktahuan.
Terlahir sebagai spesies yang spesial. Mereka seringkali membentuk kondisi keingin tahuan lebih, pada dasarnya sesuatu hal ditunjukkan pada bagian pristiwa semata. Bahkan, pristiwa tersebut diukur dalam Kacamata parsial dan partikular. Sehingga daripada itu, tidak ditemukan kepastian pada sesuatu yang diketahui.
"Kadang-kadang, sesuatu yang manusia anggap ada sebagai yang empirikal ditipu, bahkan apa yang manusia miliki hari ini pun adalah sebuah titipan yang bisa setiap massanya hilang. Manusia seringkali pula penasaran pada apa yang mereka miliki, tetapi pada dibalik layar. Atas siapa semua ini dikehendaki? "
INTROPEKSI PRISTIWA, DAN KETIDAKTAHUAN YANG PALING MUNGKIN
Sesuatu hal selalu dianggap nyata ketika ia bisa dikenali. Baik itu dalam tatanan instrument akal maupun inderawi. Dalam hal ini, tidak dibicarakan pads ruang eksistensi, melainkan kepada subtansi dari apa yang terjadi.
Seharusnya sejak awal manisia sudah menyadari mereka seringkali terperanjak penasaran atas apa yang terjadi. Namun, ada kala mereka tak peduli. Tetapi semua kembali kepada kepenasaranan dan keingintahuan, apakah yang sebenarnya terjadi?
Rujukan pada sesuatu hal yang bisa dikenali adalah sebuah pristiwa. Kadang-kadang pristiwa hadir sebagai keadaan yang mengumpul, artinya sentralisasi keinginan pada hal seringkali terperanjak melalui pada sesuatu hal yang berjejeran, kemudian semua diambil sebagai bagian-bagian parsial yang kemudian hari setiap mereka mulai menyusun, merancang, bahkan membentuk kondisi yang nantinya semua itu menjadi pristiwa.
Tidak sekedar kejadian yang telah dicercap dalam kejadian besar seperti banji, tsunami, dlsb dikatakan sebagai pristiwa. Penggunaan diksi pristiwa pun juga merujuk pada bagaimana proses berfikir dan menunjukan dunia dalam pandangan yang lebih kompherensif dan holistik. Akan tetapi, tidak sepenuh nya dibenarkan dengan paten pristiwa melalui pandangan tersebut.
Akal yang berfikir seringkali salah, inderawi yang melihat juga seringkali ditipu. Sehingga perlu gandengan keduanya untuk menatap kenyataan dan memperoleh kebenaran. Sebuah pristiwa adalah kejadian pada proses fikiran yang bagian eksternal adalah yang diketahui dalam inderawi, semua penuh tanda tanya dan skeptisisme selalu menjadi bagian terdepan.
Tidak bisa dipungkiri, apa pun yang diketahui oleh manusia seringkali salah memahami. Mereka mencari-cari konsep kebenaran pada sesuatu hal yang terjadi pada sebuah pristiwa. namun pada akhirnya keraguan atas jawaban terhadap yang terjadi seringkali terjadi pada akal budi murni.
Keraguan murni terjadi pada keberhasilan proses pencarian. Keraguan diposisi pada bagian verifikasi terhadap titik pristiwa. Semakin sering pristiwa diuji, maka semakin kuat pula pristiwa tersebut dikatakan dalam jangkauan kebenaran.
Adapun 2 prinsip-prinsip utama keraguan terhadap sebuah pristiwa, diantaranya.
1. Pristiwa adalah kejadian aktif pada fenomena, baik itu fenomena terjadi dalam penampakan maupun dalam ide fikiran. Keraguan diadakan untuk memahami bahwa pristiwa tidak bisa dianggap mutlak keberadaan pada titik tertentu dikarenakan fenomena adalah kejadian diluar, dan tak dikenali yang an sich
2. Keraguan seringkali melahirkan pertanyaan tanpa henti dari jawaban yang diperoleh. Pristiwa pada bagian fenomena seringkali menjadi tajuk keraguan tanpa henti. Sedangkan pada pristiwa dalam fikiran adalah modal probabilitas atas pertanyaan internal yang seringkali tidak bisa di fahami oleh orang-orang lain.
Pada akhirnya, apapun yang menjadi pristiwa selalu dihadirkan untuk memperoleh kebenaran. Tidak ada relasi yang bersifat persuasif dan mutlak pada pristiwa yang diajukan manusia. Selalu ada keraguan pada apapun yang terjadi, hal demikian mengindikasikan satu hal atensi bahwa kebenaran tidak diletakan pada yang nampak ataupun dalam idea pribadi. Melainkan ia ada dalam kotak Pandora yang paling akhir keluar dari bentuk "harapan". Akan ada kebenaran tersebut, tetapi bukan memutlakkannya


Komentar