Apakah Ada Sebuah Kebenaran?

 

Ada sesuatu yang dituju manusia. Entah itu seperti apa, setiap individu memiliki kesempatan untuk berfikir dan mendikte idenya. Bahwa ketika mereka berada pada posisi tertentu, mereka harus siap-siap bertempur dengan perbedaan. Apapun jenisnya, tentu satu teluk yang atensi, bahwa manusia seringkali menjerumuskan diri pada idea yang ingin digapai. Keinginan yang sama ini suatu saat nanti menjadi satu kesepakatan yang hampir menyeluruh, diterima diberbagai kalangan sebagai semestinya di lakukan yang manusia sebut sebagai kebenaran. 

Kebenaran bukan semata-mata postulat manusia sebagai mahkluk hidup, atau bahkan kebenaran bukan sekedar 1+1=2. Kebenaran tidak berada pada variabel satu dimensi kontinu. Ia selalu berada pada sidang dialektika. Dihadapkan pada berbagai diferensiasi untuk menjelaskan bahwa kesempatan dalam menemukan jawaban semestinya harus sama dan meski diinginkan. 

Kebenaran bagai proyek yang seharusnya ada, dicari, diteggakan. meski diinginkan, bahkan menjadi satu hal yang urgensi dimanifestasikan secara essensial. Tidak ada hal yang memberikan dalil pelanggaran, kebenaran bagai sebuah proyek keinginan semua orang, bahwa apapun yang tampil di dunia meski diperbincangkan dalam metodologi dunia. Sehingga apapun yang manusia temukan, jika berbicara soal kebenaran, maka yang menjadi satu titik sentral tak lain dari tujuan bersama. 

Namun menjadi problem atensi nya ialah apakah mungkin sesuatu di dunia ditinggali oleh manusia memungkinkan ada kebenaran?. Jawabannya kembali pada satu rumusan tegas sebagai postulat awal. Bahwa manusia adalah mahkluk yang terbatas dan akhirnya keterbatasan ini melahirkan berbagai hal yang terbatas. Manusia tidak akan mungkin bisa mencapai sesuatu dalam tanpa batas ketika dirinya saja adalah mahkluk terbatas. 

Ini mendeskripsikan bahwa kebenaran sama halnya dengan dengan kemampuan manusia. Bahwasanya keberadaan kebenaran akan terbatas sesuai dengan sejauh mana kebenaran itu diungkap kan. Tentu ini Mengindikasikan bahwa kebenaran dicapai dan dicetuskan oleh setiap manusia memiliki kekurangan dan kelebihan. Jika menilik hal demikian, ada satu aksiomatik ironis yang harus diterima, bahwa kebenaran adalah kesepakatan yang diinginkan dalam jangka waktu tertentu. 

Jika melihat bagaimana manusia menjelaskan tentang versi kebenaran, ada yang mengatakan bahwa kebenaran adalah bagaimana setiap relasi harus berkesempatan berkesinambungan satu sama lain. Kebenaran memberikan arahan bahwa setiap manusia yang memberikan dalil yang sama memiliki relasi yang sama sepantasnya dikatakan kebenaran. Karena kekonsistenan dan relasi saling mengkuatkan pada variabel yang berbeda saling menyelaraskan. Kebenaran ini disebutkan sebagai kebenaran relasi.

Kebenaran relasi memberikan ketegasan bahwa manusia dalam individu tertentu pernah memiliki idea yang sama karena memang relasi pada setiap hal sama. Idea yang sama dalam setiap individu atau kelompok mengkonfirmasi bahwa terdapat kebenaran didalamnya. Ia konsisten dengan kekuatan dalil dijelaskan,kebeneran relasi memberikan argumen yang sama dengan kebenaran performative dimana menggarisbawahi bahwa kebenaran individu dan individu lain yang sama disampaikan dipastikan menjadi kebenaran sejati. Kebenaran performative memberikan penekanan pada penyampaian, ia memberikan dalil persuasif dan menyamakan idea-idea dalam setiap Individu yang memiliki kesamaan. Kekuatan dalil kebenaran performative tak lain dari kesamaan bahwa setiap hal yang disampaikan pada individu lain, atau individu lain menyampaikan satu gagasan yang sama dan dipengaruhi karena alasan logis, rasional bahkan sesuai dengan fakta realitas menjadi satu jenis kebenaran yang disebut kan sebagai kebenaran performative. 

Kebenaran relasi dan kebenaran performative memang memiliki kesamaan pada antar individu atau antar kelompok. Idea yang sama ini menjadi persamaan khas dari dua jenis kebenaran, namun adapun perbedaan yang signifikan yakni jika kebenaran relasi menekankan pada individu yang sama memiliki idea tanpa harus terkonfirmasi saling memberitahukan seperti halnya sik A menjelaskan hal yang sama dengan sik B mengenai sebuah kejadian di waktu yang sama namun ditempat yang berbeda, tanpa ada komunikasi antara sik A dan B. Sedangkan untuk kebenaran performative bagaimana idea yang sama memberikan persuasif dan kekonsistenan yang kuat, semisalnya jika si A menjelaskan sesuatu hal pada sik B. Dan idea tersebut sik B setujui karena itu merupakan idea yang lebih diterima yang disampaikan si A, meskipun sebelumnya si B sudah tahu, namun setelah terkonfirmasi dan mendapatkan informasi dari sik A, maka si B semakin menguatkan bahwa apa yang dikatakan si A benar, dan seterusnya sik B akan menyampaikan pada sik C atau seterusnya. 

Dengan demikian, penekanan pada kebenaran performative adalah bagaimana antar subjek saling memberikan persuasif pada dalil yang bisa diterima. Kebenaran nya ditolak ukur pada ukuran yang bisa diterima pada individu. 

Selanjutnya adapun kebenaran pragmatis yang mengharuskan nilai dari kebenaran pada guna atau fungsinya. Kebenaran ini diperlihatkan pada bagaimana setiap hal pada ide dan tindakan tertentu haruslah berguna bagi manusia. Nilai ini menjadi parameter bahwa kebenaran dimiliki. Kebenaran pragmatis sering kali dipakai pada berbagai hal semisal nya oleh para saintifik, ilmuwan dan masyarakat modern yang kental akan konsumtif. Kebenaran pragmatis menilai bahwa kegunaan sesuatu hal selalu menjadi pertimbangan urgensi untuk dikatakan sebagai kebenaran. 

Kemudian kebenaran dilihat dari segi bagaimana sebuah pernyataan bisa menjadi kenyataan, ini memberikan penjelasan yang cukup akurat dan penuh hipotesis, kebenaran ini disebut kan sebagai kebenaran korespondensi. Kebenaran yang melahirkan manusia yang mampu memberikan hipotesis pada sebuah fenomena. Nilai sebuah kebenaran ditentukan pada bagaimana seseorang mengatakan sesuatu, yang kemudian sesuai dengan apa yang dikatakan tersebut menjadi kenyataan, maka itulah menjadi kebenaran. Kebenaran korespondensi  memberikan dalil kuat bahwa setiap manusia perlu memahami kebenaran dalam sebuah fenomena dengan memberikan pernyataan dengan pembuktian nantinya. Semisal nya pernyataan bahwa besok akan hujan, dan benar besok hujan, maka pernyataan tersebut dikatakan sebagai kebenaran. Kebenaran korespondensi memang penuh dengan hipotesis dan rasio prediksi. 

Adapun hampir sama mengenai jenis kebenaran pragmatis adalah kebenaran demokratis. Kebenaran ini dilihat dari bagaimana sisi lain dilihat dari nilai guna, sekaligus kebenaran itu dilihat dari sejauh mana jumlah nya. Kebenaran demokratis menekankan pada bagaimana dari segi kuantitas. Ini menekankan bahwa jumlah yang banyak lebih mengungguli dan dipercaya sebagai kebenaran daripada segelintir orang yang mengagasnya. Kebenaran demokratis seringkali digunakan dalam pengambil keputusan ketika problem musyawarah dan mufakat. Negara yang menganut Demokrasi memberikan kebenaran bahwa jika sesuatu hal diinginkan lebih banyak orang daripada segelintir orang, maka keberpihakan pada kebenaran itu diberi pada banyak orang tersebut. 

Dan kebenaran yang berada pada kepercayaan dan keyakinan, kebenaran pada sesuatu yang dianggap abosult dan selalu dianggap benar tanpa ada pembantahan dengan alasan apapun. Kebenaran jenis ini disebutkan sebagai kebenaran teologis. Dimana kebenaran ini menekankan bagaimana kemutlakan berasal dari Tuhan, Tuhan memberikan aturan kepada manusia melalui agama dan kitab suci, yang kemudian manusia menjalani semua itu sesuai dengan aturan yang ada. Posisi kebenaran dalam kebenaran teologis selalu tanpa antitesa, ia tidak lagi di ukur, bahkan tak ada keraguan sama sekali. Yang pasti semua kebenaran yang lahir dan diberikan oleh Tuhan selalu dianggap sebagai yang semestinya dilakukan manusia. Dengan ini kebenaran dalam teologis manusia berada pada peran aktor tanpa harus mengetahui titik dibalik semua, dengan dogma yang dipercayai dan diyakini bahwa semua baik dan benar, karena yang baik dan benar berasal dari tuhan. 

JADI... 

Kembali pada porsi pemantik awal apakah ada sebuah kebenaran? Maka Jawaban itu kembali pada dalil jenis kebenaran mana yang dipergunakan. Apakah jenis kebenaran yang saling konsistensi dan sepemahaman dalam jenis kebenaran relasi, apakah jenis kebenaran yang saling memberikan dalik persuasif antar individu dalam kebenaran performative, apakah jenis kebenaran penuh dengan hipotesis dalam kebenaran korespondensi, apakah jenis kebenaran melihat nilai guna dan manfaat dalam kebenaran pragmatis, kemudian apakah kebenaran dilihat dari segi kuantitas dari kebenaran demokratis, dan apakah kebenaran dalam nilai keabosultan dalam jenis kebenaran teologis. 

Semua itu kembali pada catatan dan dalil masing-masing. Dan itulah keanehan dari kebenaran yang manusia ketahui sejauh ini.

Komentar

Postingan Populer

Citra Sirius A dan Sirius B yang diambil dari Hubble Space Telescope. Sirius B, yang merupakan katai putih, dapat dilihat sebagai titik redup di sebelah kiri bawah Sirius A yang lebih terang. Katai putih, juga disebut katai degenerasi, adalah bintang kecil yang sudah tidak lagi bersinar. Katai putih adalah tahap evolusi terakhir bintang bermassa kecil dan menengah (sekitar 0,07 M☉ sampai 10 M☉ ; M☉ = Massa matahari). Katai putih sangat padat dimana massanya sama dengan matahari tetapi volumenya hanya sebesar bumi, katai putih terdiri dari materi terdegenerasi. Katai putih tidak lagi memiliki bahan bakar berupa hidrogen untuk melakukan fusi, bintang melakukan fusi dan menghasilkan energi serta tekanan yang menuju keluar inti, hal ini diseimbangkan oleh energi gravitasi yang menuju kedalam, akan tetapi katai putih tidak lagi melakukan fusi sehingga semua materinya tertarik menuju inti sehingga katai putih menjadi sangat padat. Hal yang sama juga dialami bintang bermassa besar tapi gaya gravitasinya jauh lebih kuat sehingga tarikan ke inti menjadi lebih dahsyat dan akhirnya meledak membentuk lubang hitam atau bintang neutron. Katai putih tidak mempunyai sumber energi sehingga lama kelamaan katai putih akan mendingin sampai tidak memiliki cahaya lagi untuk dipancarkan tetapi itu sangat lama karena katai putih berumur sampai 10 milyar lebih lam dari alam semesta ini , katai putih berubah menjadi katai hitam. Waktu yang diperlukan untuk menjadi katai hitam diperkirakan lebih lama dari usia alam semesta saat ini (13,8 milyar tahun), karena itulah ilmuwan percaya belum ada katai hitam yang tercipta. Ketidakbiasaan katai putih pertama kali dikenali pada tahun 1910 oleh Henry Norris Russell, Edward Charles Pickering dan Williamina Fleming; nama katai putih pertama kali digunakan oleh Willem Luyten tahun 1922. Katai putih terdekat bumi adalah Sirius B yang mengiringi bintang Sirius A yang merupakan bintang tercerah di langit malam. Lihat pula Batas Chandrasekhar Artikel ini menggunakan bahan dari artikel Wikipedia Katai putih, yang dilepaskan di bawah Creative Commons Attribution-Share-Alike License 3.0.