Kafkesque: Hidup Dalam Dimensi Ketidakberdayaan+Kebingungan
Apa yang terjadi pada manusia?
Apa yang aneh pada manusia sehingga selalu memunculkan misteri?. Manusia menjadi mahkluk yang membentuk abstraksi pemikiran yang kompleks, dunia manusia berisi dunia yang tidak pernah bisa terbaca satu pemikiran. Kompleksitas demikian di bangun dari bagaimana mereka memahami dunia. Manusia, adalah spesies yang menggali dunia dengan kacamata kompleks, sekop yang di gunakan adalah nalar fikir yang bagi mereka cukup untuk memahami, namun selalu saja nihil atas eksistensi. Begitu lengkap dan tak pernah berisi, manusia menjadi misteri atas diri mereka sendiri.
Ketika mereka menciptakan makna, terkadang dua hal yang akan terjadi, satu makna itu tercipta dan menghasilkan sebuah wacana pengetahuan, dan kedua produk makna tidak tercipta dan menghasilkan visi makna yang lainnya. Inilah titik koordinat pengetahuan, ladang yang luas berisi bukan sekedar pasir, melainkan misteri yang manusia sendiri buat. Manusia, terjebak pada abstraksi pemikiran mereka sendiri. Manusia, begitulah mereka, berusaha menciptakan makna untuk hidup, meskipun itu perbuatan yang begitu memaksa, namun cara itulah membuat mereka selalu bertahan hidup dengan kekonyolan makna yang diciptakan.
Ketika manusia menjadi makna, mereka terbuang dalam ruang nilai. Nilai bagi banyak orang yang telah terdoktrinasi adalah sesuatu yang niscaya. Namun, pada keseluruhan nilai dibentuk dan dibuat-buat dalam struktur sosial kehidupan. Nilai inilah yang di pegang kuat oleh manusia untuk hidup, makna hidup seperti apa dan bagaimana, mereka dibentuk dengan ukuran nilai yang sudah ada.
Manusia, selalu terjebak dalam dimensi itu, dimensi dimana mereka tidak sama sekali bebas, mereka dijebak dan di kunkung oleh misteri alam semesta yang tak pernah diketahui ini, disana dan dimanapun itu. Manusia akan menjadi misteri bagi dirinya sendiri, dan alam inilah yang akan menjadi bagian misteri yang penuh abstraksi. Lalu kemudian semua berlalu begitu saja, makna dan nilai-nilai itu mulai menjadi abu yang telah terbakar api ketidaktahuan, misteri akan menjadi sebuah jawaban absdurditas, ketidaktahuan adalah kebenaran. Maka, yang terjadi adalah manusia, adalah kenihilan nyata dari alam semesta ini sendiri. Tercipta begitu saja tanpa ada jawaban pasti, sudah tidak ada lagi pencarian kebenaran. Semua terbuang begitu saja, hamba, kosong, sepi, sunyi, dan kegilaan adalah misteri bagian di dalam nya. Dan begitulah manusia yang serta merta menjadi alam itu sendiri, meskipun jelas mereka akan terkunkung jelas sebagi objek, yang sebelumnya kesombongan dikotomi subjek-objek pernah dikumandangkan setiap massanya.
Massa itu, dikenal sebuah misteri yang pernah ada, sebuah keadaan dimana lahirnya manusia tanpa ada kebaharuan lagi. Otentisitas manusia hanyalah hoax yang dibuat sebagai bumbu-bumbu kebenaran. Tetapi, nyatanya adalah kebingungan, makna, tujuan, kelahiran kembali manusia adalah dambaan yang mengenal dunia dan objek sebagai bagian eksternal. Namun, nyatanya kelahiran kembali adalah nihilisme, bahkan semua berakhir pada absudisme, disinilah satu gagasan bernama Kafkaesque lahir sebagai konsepsi menyatakan kedudukan dunia beserta manusia dimana, dan mengapa mereka begitu aneh, sembari sunyi misteri dan kebisingan manusia yang bertanya eksistensinya menghantui.
Istilah "Kafkesque" merujuk pada situasi yang absurd, penuh kebingungan, dan diwarnai oleh perasaan alienasi serta ketidakberdayaan individu dalam menghadapi kekuatan besar yang tampak mustahil untuk dipahami atau dilawan. Ketika sebuah keadaan dikatakan "Kafkesque," sering kali itu mengacu pada pengalaman yang serba salah dan penuh tekanan, di mana seseorang terjebak dalam labirin prosedural atau sistem yang birokratis, tanpa memiliki kendali atas nasibnya sendiri. Bayangkan seseorang yang terjebak dalam mesin birokrasi yang kaku dan tak kenal ampun, di mana setiap usaha untuk melawan atau mencari penjelasan justru membawa mereka lebih jauh ke dalam kebingungan. Seperti dalam karya Kafka, "The Trial" atau "The Castle," tokoh utama didera oleh ketidakpastian hukum dan kepastian ketidakadilan, berhadapan dengan sistem yang sepenuhnya tidak peduli akan kemanusiaan mereka. Konsep ini menangkap absurditas modernitas di mana individu menjadi kecil dan tak berarti di hadapan struktur sosial yang rumit, menekankan betapa rapuhnya posisi manusia dalam masyarakat yang terus berkembang ke arah ketidakjelasan dan kompleksitas yang seringkali tidak terjangkau oleh logika manusia biasa.
Kata "Kafkesque" sendiri berakar dari penulis Ceko-Jerman, Franz Kafka, yang karya-karyanya secara konsisten menggali tema keterasingan, absurditas, dan dehumanisasi dalam masyarakat modern. Dalam banyak tulisannya, Kafka menggambarkan tokoh-tokoh yang terperangkap dalam sistem yang tidak terjangkau akal sehat, terisolasi, dan semakin kehilangan identitasnya sebagai manusia. Penokohan Kafka yang lemah, bingung, dan merasa selalu diawasi, mencerminkan pengalaman manusia modern yang semakin merasa tidak berdaya dalam arus informasi, teknologi, dan birokrasi yang menumpuk. Kafka seolah mengisyaratkan bahwa, dalam dunia modern ini, manusia tidak lagi sekadar makhluk yang memiliki kebebasan dan identitas individu, melainkan bagian dari mesin besar yang menggilas aspek kemanusiaan demi kepentingan sistem itu sendiri. Dengan begitu, istilah "Kafkesque" tidak hanya menggambarkan absurditas situasional, tetapi juga kritik mendalam terhadap dunia yang semakin kompleks, di mana hakikat kemanusiaan sering kali tereduksi menjadi sekadar roda kecil dalam roda gigi raksasa.
Kafkaesque menjadi konsep nyata bahwa manusia adalah misteri bagi dirinya sendiri. Mereka selalu memaknai makna hidup, namun mereka sama sekali tidak memahami apa itu makna sendiri. Membangun nilai-nilai sebagai seperangkat alat, namun lupa dengan bahan-bahan alat yang digunakan untuk membangun tersebut didapatkan dari apa.
Manusia hari ini, sebagai sosok Kafkaesque adalah manusia yang teralienasi. Sebagai manusia, mereka ada, namun sebagai wujud kemanusiaan, mereka di buang entah berantah tanpa ada jejak. Dunia ini mendesain manusia sebagai dua dikotomi yang bagi kaum Marxis telah dijelaskan sangat kompleks, seperti orang-orang yang memiliki modal yakni di kenal sebagai kapitalis yang berusaha mengendalikan alat. Mereka adalah orang-orang yang bagi Nitezche adalah manusia "Ubermunsch" Yang dikenal manusia super, kaum kapitalis memiliki akses terhadap pendidikan dan memiliki akses pada aspek lainnya sehingga mereka berhasil menemukan makna. Nilai pun mereka bangun sendiri dari kontrol atas wacana yang telah di produksi. Habitus yang telah di rangkai dalam arena tersebut berasal dari kekuatan modal yang telah dikuasai. Jelas, kaum kapital memiliki kesadaran dalam situasi di dunia. Dan makna dunia bagi mereka adalah menjajah para kaum tertindas, dan orang-orang yang dikenal kekerasan sistematis.
Orang-orang marginal, kaum tertindas dan proletariat dalam pandangan marxis adalah mereka yang hanya menciptakan produk dari kaum kapital yang mengontrol. Inilah mereka, kaum-kaum terpinggir yang tidak atau bahkan membuang nilai atas diri mereka, teralienasi dari dunia yang mereka tinggali. Mereka semua di kontrol dari hulu ke hilir atas kehidupan, baik dalam keseharian, sosial, sampai pemerintah. Mereka tak pernah memiliki kendali untuk memaknai hidup secara bebas. Orang-orang terpinggirkan secara individu adalah mereka yang disebut memiliki makna absurd dikarenakan idealisasi dalam fikiran tanpa ada perantara penerapan.
Kaum tertindas atau masyarakat marginal inilah yang kehilangan makna nya. Dalam istilah kasar sebelumnya disebut sebagai istilah "Kafkaesque". Dimana, mereka terjebak tidak hanya pada absurd situasional yang mengikat mereka secara struktural, melainkan juga pada realita yang begitu kompleks membuat mereka tidak bisa bebas. Sebagai buruh pabrik yang bekerja membuat sepatu, sebagai seorang karyawan yang menciptakan produk sepatu, mereka teralienasi dari produk yang diciptakan sendiri, artinya mereka sebagai karyawan pembuat sepatu di sebuah pabrik milik kapitalis bahkan tidak bisa memiliki atau membeli produk yang mereka ciptakan sendiri. Disinilah dilema dan kebingungan atas hidup. Mengapa mereka hidup dalam makna nilai-nilai yang tidak pernah tepat sasaran, kekacauan menjadi banjir yang dalam fikiran, mengapa mereka atau manusia seperti itu?. Kafkaesque menjawab dengan tegas bahwa alienasi yang terjadi pada orang-orang terpinggirkan atau masyarakat marginal adalah realitas yang begitu membingungkan. Keselamatan bagi mereka tidak pernah ada payung yang menutupi hujan permasalahan tuk membasahi. Selalu saja ada, tekanan-tekanan internal dan eksternal yang membuat mereka terjebak pada sistem struktur yang mereka sendiri bangun bersama meskipun secara tak sadar sekalipun.
Begitulah cara menjebak manusia dalam kerumitan mereka. Sekali saja, manusia adalah misteri bagi dirinya sendiri, dan bahkan manusia tidak pernah menemukan diri mereka atas eksistensi. Makna atau sejenis nya adalah bagian problem lengkap dan kompleks yang harus diisi dan digali dengan pengetahuan. Kesadaran baik nyata atau palsu adalah struktur pilihan, meski kembali lagi, pilihan itu disadari atau tidak, atau bahkan melalui keterpaksaan. Yang jelas, Kafkaesque menjelaskan bagaimana manusia modern hari ini mencoba kelur dari makna yang tidak benar, dan bahkan berusaha mencoba untuk memahami makna hidup, namun sekali lagi. Mereka bingung dengan bagaimana mekanisme dunia ini bekerja sesungguhnya.
Referensi bacaan;
1. Clegg, Stewart, et al. "Kafkaesque power and bureaucracy." Journal of Political Power 9.2 (2016): 157-181.
2. Sutton, Rebecca, and Darshan Vigneswaran. "A Kafkaesque state: deportation and detention in South Africa." Citizenship Studies 15.5 (2011): 627-642.
3. Lee, Kenneth. "Fathering the Kafkaesque: Transcendental Authority and the Problem of the Absurd in Kafka." (2017).
4. Smith, Zadie. "Interpreting Kafka." Kafka Translated: How Translators Have Shaped Our Reading of Kafka (2013): 241.
5. Syifa, Awalia, et al. "Hubungan Panta Rhei Dan Keadilan Dalam Pemikiran Heraclitus." Praxis: Jurnal Filsafat Terapan 1.02 (2024).


Komentar